Try to write

MANUSIA-MANUSIA INDIGO

       Aku ingin bermimpi. Tapi bukan mimpi seperti biasanya. Aku ingin bermimpi. Tapi hanya untuk mimpi yang kuinginkan. Andai mimpi bisa kuciptakan sendiri. Dengan alat atau tanpa alat, yang penting sesuai dengan keinginanku. Aku berharap ada bidadari yang duduk di sampingku lalu mencatat segala permintaan sebelum aku tidur. Terutama tentang mimpi. Mungkin aku akan menyewa bidadari seperti itu. Dia akan bertanya padaku, “Mimpi apa yang kau inginkan malam ini?”. Lalu, aku akan menjawab pertanyaan itu dengan senang hati. Jawabanku mungkin sedikit rumit, tapi tidak sulit baginya. Bidadari itu kemudian akan mengeluarkan sihir dan mantra untuk membuat permintaanku tersimpan dalam memori bawah sadar di otakku. Memori itu akan mengaktifkan semua data yang tersimpan secara otomatis saat aku tidur. Dan saat itu, aku akan bermimpi seperti yang kuinginkan.
     Mimpi itu berimprovisasi sendiri sesuai keadaan dan kemauan. Tapi terkadang mimpi juga bisa melenceng dari perkiraan. Kadang bisa berupa cerita atas hal yang telah lama tak terjadiyang dirindukan. Mimpi juga bisa menjadi sisi indigo. Karena biasanya mimpi memberitahu kejadian yang akan terjadi alias berubah menjadi nyata.

***

       Hari yang melelahkan selalu bisa terisi oleh ocehan anak SMP. Bahkan untuk cerita-cerita kecil yang menghabiskan banyak waktu, setiap harinya tidak pernah absen. Apalagi dengan teman sekelas yang level kecerewetannya sama. Duduk bercerita sembari mengunyah camilan yang baru dibeli dari kantin. Setiap jeda disempatkan untuk memasukkan camilan ke dalam mulut. Mulut yang sudah berancang-ancang melontarkan banyak kata. Kata-kata itu punya banyak makna yang bisa mengundang tawa, kesal, bisa juga tidak mengundang apa-apa. Cukup seru.
       “Eh, tadi malam aku mimpi aneh banget!”
       Semua mata tertuju pada Raya yang baru saja mengacaukan suasana dengan kata-katanya tadi. Raya mulai bercerita tentang mimpinya tadi malam. Aku tidak begitu memperhatikan karena lebih tertarik untuk menikmati keripik rasa ayam bumbu yang baru kubeli. Aku tidak tahu apa yang diceritakan Raya. Sampai akhirnya dia mulai membicarakan hal lain meskipun masih bertopik mimpi.
       “Setiap kali mimpi, aku pasti berniat ceritain mimpiku di sekolah. Pokoknya harus ceritain! Tapi, tiba-tiba aku lupa. Padahal aku udah janji mau ceritain, tapi malah lupa, deh. Seriiinngg banget kaya begitu!”
       “Oh iya, menurut penelitian, kalau kita mimpi, beberapa detik setelah bangun tidur kita jadi lupa mimpi itu.” sambung Ekha.
       Tiba-tiba aku ikut terpancing membahas topik mimpi yang sedang mereka bicarakan.
       “Kalau aku mimpi, aku sadar kalau aku sedang bermimpi. Aku tahu kalau aku nggak berada dalam kehidupan nyata.” ucapku.
       Mereka tidak merespon ucapanku meski sebelumnya mereka memperhatikanku.
       “Tapi sebelnya, walaupun aku tahu itu hanya mimpi, aku selalu bersikap seperti menghadapi hal yang nyata. Dalam mimpi pun aku tetap nggak bisa bersikap seperti apa yang aku inginkan yang nggak bisa aku lakukan dalam kehidupan nyata.” lanjutku.
       Belum ada jawaban juga. Raya hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku tadi. Tiba-tiba aku teringat tentang mimpiku dulu. Mimpi itu memang aneh. Semua mimpiku memang selalu aneh. Tapi aku tidak ingin bercerita lagi tentang mimpi-mimpi aneh itu.

***

       Aku sudah akrab dengan rasa lelah seperti ini. Aku dan teman-temanku sudah terlatih dalam memikul kelelahan bersama. Semenjak kelas IX, kami hanya membuang waktu untuk mengerjakan tugas. Kerja kelompok ini, kerja kelompok itu, tugas ini, tugas itu, tidak pernah habis! Bahkan kata istirahat hampir terlupa. Sebentar sekali! Se-encrot, kalau Andre Taulani bilang.
       Kelas ini lagi. Lantai yang kotor lagi. Pemandangan ini lagi. Huh! Jujur, aku sedikit bosan. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang kami punya. Tak ada istana yang bisa disinggahi. Rumah sepertinya kurang cocok untuk kami. Untuk jumlah kami.
       “Eh, entar. Aku sepertinya pernah mimpi kejadian ini. Di dalam kelas, ya kaya begini. Beneran!” ucap Ina.
       “Iya, bener. Aku juga pernah mimpi kita latihan dalam kelas. Persis kaya sekarang ini!” tambah Raya.
       Mimpi lagi. Sekarang masih saja tentang mimpi. Mungkin semua hal sudah pernah mereka mimpikan. Sampai-sampai aku hanya kebagian sedikit. ­Se-encrot juga.
       Sudah lama aku tidak bermimpi. Terakhir kali adalah mimpi tentang teman-temanku. Mimpi aneh dan tidak masuk akal. Maklum, mimpi memang tidak punya plot layaknya cerpen. Ending-nya juga tidak jelas. Sering berujung pada pemandangan sekitar kamar atau bunyi alarm yang menyebalkan.
       Aku tidak peduli lagi tentang mimpi yang mereka bilang.
       “Ayo, lanjutin latihannya!” ajakku.
       Kami latihan lagi.

***

       Tidak seperti biasa, malam ini aku tidak mau berasa-basi soal mimpi yang kuinginkan saat tidur. Lagipula, sampai sekarang ini belum ada bidadari yang duduk di sampingku. Belum ada yang aku sewa. Aku tidak ingin memikirkan itu sekarang. Rasa kantuk menyerang dengan cepat dan tiba-tiba. Aku tidak punya antibodi yang sanggup melindungi tubuh dari penyakit itu.  Sekarang kian akut. Sudah stadium akhir.
       Dunia yang gelap menyambutku. Remang-remang pandanganku. Tapi aku masih bisa melihat jelas. Semua objek sama seperti aslinya. Perasaanku sama seperti nyatanya. Hanya saja, penggalan-penggalan peristiwa yang ada kadang tidak nyambung saat dirangkai menjadi sebuah cerita. Tapi saat mengalaminya aku merasa semua baik-baik saja.
       “Lihat itu! Sekarang dia sudah berada di akhir kehidupannya.”
       Seorang lelaki mengagetkanku. Aku tak begitu memperhatikan siapa lelaki itu. Yang aku perhatikan adalah arah telunjuknya. Ia menunjuk ke tempat yang sebelumnya tidak kupedulikan. Aku memang sedang sibuk dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak kuketahui apa itu. Seperti sok sibuk.
       Perlahan kudekati tempat yang ditunjukkan lelaki tadi. Betapa terkejutnya aku saat melihat sahabat kecilku tergeletak tak berdaya di sudut dinding keramik rumah tetangga. Aku histeris tak percaya.
       “Bangun!”
       Aku ingin menyembuhkan luka di tubuhnya. Tapi, dengan apa? Aku sendiri bingung. Dia sudah sangat lemah. Tapi di benakku dia masih bisa sembuh. Dia harus bisa sembuh!
       “Obat! Tolong berikan obat untuk dia! Dia masih bisa hidup!” teriakku.
       Tidak ada yang mendengar suaraku. Begitu banyak orang di sekitarku tapi tidak ada satu pun yang peduli. Aku seperti tak ada. Mereka tidak menganggapku.
       “Aduh, cepat! Obatin dia! Cepat obatin dia! Dia masih bisa sembuh!”
       “Sudah. Itu sudah tidak bisa.”
       Tiba-tiba ayah datang mendekati. Seperti seorang dokter profesional, dia berbicara tenang dan begitu yakin dengan ucapannya. Ayah sering bilang kalau sebenarnya dia ingin jadi dokter, tapi tidak kesampaian.
       “Ah, enggak! Masih bisa, kok.” aku melawan.
       Aku melihat ke sekeliling. Seakan mencari sesuatu yang barangkali bisa membantu. Tapi tidak mungkin ada.
       Tiba-tiba aku terdiam. Menyerah, tapi tidak pasrah begitu saja. Aku berpikir keras dan berusaha menyadarkan diri. Mengembalikan ingatanku pada cerita nyata karena aku tahu yang sedang kualami sekarang terasa ganjil. Ini cuma mimpi? Iya, ini cuma mimpi. Cuma mimpi! Dia masih ada, kok.
       Dan akhirnya aku sadar, aku sedang bermimpi. Jika aku bangun, semua akan berubah. Semua kembali seperti aslinya. Tidak ada kejadian seperti ini. Aku hanya duduk menunggu. Menunggu sampai waktunya nanti aku akan terbangun dan meninggalkan mimpi ini. Mimpi yang tidak pernah kuinginkan. Mimpi yang paling buruk.

***

      Kepalaku terasa berat. Banyak sekali beban yang masih tertimbun dalam pikiranku. Resah. Keresahan itu kemudian membangunkanku dari tidur yang melelahkan. Membuatku lupa semua dunia dan peristiwa yang sudah kujelajahi tadi malam. Kemudian, semua kujalani seperti biasa. Hari seperti biasa. Minggu yang terasa panjang dan melelahkan. Memang libur, tapi bukan untuk istirahat.
       Tapi, aku merasa sedikit aneh. Ada kesedihan tanpa alasan. Tiba-tiba, aku teringat tentang sahabat kecilku. Aku teringat dia yang nyaris mati. Lalu, aku berpikir sedikit keras. Mencoba mengingat hal lain yang berhubungan dengan itu.
       “Ah, mimpi semalam. Itu hanya mimpi. Berarti dia baik-baik saja.”
       Aku berdialog dengan diriku sendiri.
      Tiba-tiba aku tersadar. Sahabat kecilku. Sudah sejak kemarin dia tidak pulang. Aku baru sadar sepenuhnya. Dia sudah tidak pulang. Jangan-jangan mimpi semalam memang pertanda. Tapi, aku tidak menerima. Aku berusaha mengelak. Mencoba sedikit bertengkar dengan pikiran burukku.  Tadi malam cuma mimpi. Dia yang tidak pulang, cuma kebetulan saja. Beda! Aku berusaha membela diriku. Tapi perkelahian itu belum berakhir dan masih terus berlanjut. Semua sama-sama egois.
       Aku sadar, segala macam mimpi hanya hiburan belaka. Tapi, ada pesan tersembunyi di dalamnya. Aku percaya mimpi bisa menjadi nyata. Tapi, aku tidak ingin menghubungkan mimpi dengan kenyataan. Yang lebih kusadari lagi semua manusia punya indera ke-enam, ke-tujuh, dan ke-berapapun yang mereka mau. Meski tidak bisa menjadi seorang indigo, tapi kita bisa memiliki sisi indigo.

0 komentar:

Posting Komentar